AKSARA SUCI PADA KAJANG (4)

 


Om, Swastyastu

Kajang yang biasa digunakan sebagian besar ditulis dengan aksara Bali, juga diisi  rerajahanseperti  bedawang nala, naga atau yang lainnya. Kegunaan Kajang adalah sebagai sarana untuk mengembalikan manusia ketingkat kesadarannya.  Disamping itu Kajang juga sebagai simbul roh manusia. Aksara suci yang digunakan untuk merajah pada kain putih kajang adalah aksara suci yang disebut Dasaksara. Dasaksara merupakan lambang urip bhuwana, simbol kemaha-kuasaan Tuhan. Lapisan-lapisan yang membungkus atman dilukiskan dalam kajang tersebut. Lontar Wrhaspati Tattva mengatakan badan manusia terdiri dari tiga badan yang disebut Tri Sarira yaitu Stula Sarira, Suksma Sarira dan Anta Karana Sarira.

Aksara dalam Kajang bukanlah aksara sembarangan yang sekadar ditulis. Ada banyak Aksara Modre yang digunakan termasuk Aksara Rwa Bhineda yang sarat  makna. Apapun jenis kajangnya, Aksara Rwa Bhineda ini selalu ada, dan letaknya harus benar-benar diperhatikan. Dalam kajang dilukiskan aksara Ang (purusa) dan Ah (material), sementara aksara-aksara lainnya hanya sebuah variasi tergantung kreativitas keturunannya.  Sebab salah menempatkan Aksara tersebut maka akan membawa efek yang tidak baik pada si penulis Kajang. Bahkan konon, akan memperpendek usia si penulis (cendek tuwuh). Aksara Rwa Bhineda atau Dwiaksara memiliki kedudukan penting dalam ilmu mistik di Bali, baik Pangiwaan dan Penengen.Terlebih dalam ilmu kadyatmikan atau kelepasan, Aksara Rwa Bhineda merupakan benih aksara yang digunakan bagi mereka para pertapa sadhu untuk melepas Sang Atman dan manunggal dengan Sanghyang Paratmasiwa.

 

Ulon

Dalam teks Tutur Kedyatmikan aksara Angdi Bhuwana Alit (dalam tubuh) berada di Nabi atau di Muladharacakra. Ia mewakili aspek “panas” atau api yang menyala di Nabi, sehingga dalam Aji Kelepasan, tubuh diibaratkan Kunda dan apinya adalah Agnirasya yang tetap menyala dalam diri manusia. Api inilah dihidupkan dengan mengafirmasi Aksara Ang sembari memutarnya dalam putaran prana dan pranayama, sehingga seseorang dapat memiliki energi gaib. Ang adalah simbolisasi energi vital manusia yang dapat memberikan kehidupan. Kemudian Aksara Ah di Bhuwana Alit ada pada Sahasra atau empat jari di atas ubun-ubun ia mewakili energi netral sebagai kesejukan dan amritam kehidupan yang datang dari Siwobamya Siwa. Berdasarkan atas konsep tersebut, dalam teks bergenre Dyatmika Wisesa,struktur Aksara Ang dan Ah secara hierarki; Ang berada di bawah dan Ah berada di atas.Namun aksara dalam Kajang sebagai kelepasan, Ang dan Ah ditulis terbalik, sehingga sering disebut dengan aksara mati. Aksara Ang tidak lagi ditempatkan pada bagian bawah, tetapi Ang berada di atas ubun-ubun dan Ah ditempatkan di bawah atau nabi. Semua jenis Kajang apapun akan dijumpai penempatan Dwiaksara yang sama dengan penempatan terbalik. Sebab aksara Rwabhineda dengan penempatan terbalik diyakini sebagai kekuatan melepas. Sebagaimana disebutkan dalam teks Tutur Bhuwana Mahbah, bahwa “mayoga sanghyang Śiwa Reka, mijil Sanghyang Aksara Ang kalawan Ah----wawu riwijil manusa lanang stri,…”, artinya ketika Sanghyang Siwa Reka bertapa lalu munculah aksara Ang dan Ah sebagai penyebab kelahiran manusia. Kemudian di teks yang sama juga menyebutkan bahwa kematian manusia juga ditandai dengan “perputaran” Aksara Ang dengan Ah menjadi Ah dan Ang sehingga terlepaslah Sanghyang Cili (baca: atma). Teks tersebut jelas menunjukan bahwa penempatan Aksara Ah dan Ang adalah penanda bahwa jiwa terlepas dari raganya. Olehnya para pertapa Sadhu yang mahir dalam ilmu kelepasan hanya menggunakan dua aksara ini sebagai “kata kunci” untuk ia mencapai kelepasan.Aksara Rwabhineda atau Dwiaksara merupakan perasan aksara dari Dasaksara atau sepuluh aksara, yakni Sang, Bang, Tang, Aang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang dan Yang. Kesepuluh aksara diperas menjadi Pancaksara, yakni Sang, Bang, Tang, Ang, Ing yang disebut dengan Panca Brahma. Kemudian Pancaksara diperas lagi menjadi Triaksara, yakni Ang, Ung dan Mang. Kemudian Triaksara diperas menjadi Dwiaksara, yakni Ang dan Ah yang disebut aksara Rwabhineda. Aksara Rwabhineda, yakni Ang dan Ah selalu ditulis dalam Kajang sebagai simbolisasi kelepasan atau pembebasan sang roh dari belenggu Panca Mahabhuta dan semua kosa (lapisan badan)  sebagai sarung sang roh.Apakah penempatan Dwiaksara dengan benar dan tepat dalam Kajang akan dapat mengantarkan sang roh pada alam kematian hingga moksa?. Dilihat dari perspektif makna lingusitik  sangat mungkin, mengingat aksara merupakan simbol yang memiliki kekuatan magis dan gaib.Terlebih mengacu kembali pada teks Rwa Bhineda Sastra bahwa Aksara Ang dan Ah merupakan perpaduan aksara yang berhubungan dengan Sakti sebagai kekuatan atau energi. Ketika seseorang dapat menempatkan Dwiaksara tersebut dengan benar, maka Saktibhava akan muncul sebagai kekuatan mencipta dan melebur. Hal tersebut tergantung jnana si penulis Kajang sesungguhnya untuk dapat ngurip aksara tersebut, meskipun nantinya Kajang akan diritualkan dengan prosesi sakralisasi atau pasupati.

 PENINGGALAN PRABU KALIANGET, Klik di Sini

Makna aksara suci Kajang meliputi makna permohonan kepada Tuhan yaitu: untuk mencapai kesucian,  kebahagiaan abadi, mendapat perlindungan Tuhan. Berdasarkan atas hal tersebut, Kajang akan menjadi berfungsi mistik, magis dan religius jika sesana nyurat dan jnana yang menyurat terasah dengan baik. Banyak yang tidak memahami hal tersebut, sehingga Kajang disurat tanpa terlebih dahulu mentransfer aksara Kajang ke dalam diri. Beberapa Kajang pun dibuat dengan sistem Sablonan dan dibuat dengan jumlah yang banyak, sehingga terkesan ada komodifikasikajang oleh beberapa oknum. Hal tersebut akan menghilangkan taksu Kajang dengan fungsinya sebagai media pelepasan. Sekali lagi aksara dalam Kajang sangatlah tenget (sakral) dan salah menuliskannya berdampak pada kekuatan Kajang, bukan lagi sebagai pelepas tetapi menyebabkan sang roh mengalami kesengsaraan di alam kematian.

Aksara kajang terdiri dari Saddasaksara; yaitu gabungan Ongkara, dwiaksara, triaksara sertadasaksara.

 


Aksara pada Kajang

Bentuk aksara suci pada kajang dibedakan menjadi empat, yaitu 

1.   Bentuk, berdasarkan kesejarahan aksara Bali (semua aksara suci tersebut tergolong bulat/bundar).

2.   Struktur aksara, aksara suara, pengangge aksara suara, aksara pangangge aksara wyanjana. 

3.   Macam aksara wyanjana/wijaksara, dibedakan menjadi delapan, yaitu :

a.     Ekaksara  Ongkara, Pranawa "OM", 

b.     DwiaksaraPurusha Prakerti, Ang, Ah

c.     Triaksara, Ang, Ung, Mang

d.     Panca brahma, Sang, Bang,Tang, Ang, Ing (panca brahma) sebenarnya merupakan penggalan dari suku kata pertama dari sebutan dewa siwa yaitu  sa - ba - ta - a - i - yg nantinya dapat tambahan ardacandra, windu dan nada sehingga berbunyi sprt panca brahma diatas, berikut ini arti dari penggalan suku kata Panca Brahma:
sa = Sadyojata
ba = Bamadewa
ta = Tat Purusa
a = Aghora
i = Isana

e.   Panca aksara, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing

f.   DasaksaraSang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang dan Yang.

g.  CaturdasaksaraSang, Bang,Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang, Ang, Ung, Mang, Ong. (terdiri atas Panca Bahma + Panca Aksara + Tri Aksara dan Ongkara)

h.  Saddasaksara;.  enam belas jumlahnya terdiri dari Sang, Bang , Tang , Ang, Ing , Nang, Mang , Sing , Wang , Yang, Ang, Ah, Ang, Ung, Mang, dan Ong(kara).

 

HUBUNGAN DASAKSARA DENGAN LINGGIH, DEWA/BATARA SERTA WARNA

No

 

Tulisan Wijaksara

Bunyi  Wijaksara

Linggih di Buana Alit

Linggih di Buana Agung

Dewa / Batara

Warna

1

Sa

Sang

Papusuhan, Jantung (hrdaya)

Timur (purwa)

Hyang Iswara

Putih

2

Ba

Bang

Ati, Hati (yakrta)

Selatan (daksina)

Hyang Brahma

Merah

3

Ta

Tang

Ungsilan Buah Pinggang (verkka)

Barat (pascima)

Sang Hyang  Mahadewa

Kuning

4

A

Ang

Ampru, Empedu (tikta)

Utara (uttara)

Sang Hyang Wisnu

Hitam

5

I

Ing

Tengahing Ati, Pertengahan Hati (yakrt)

Tengah (madya)

Sang Hyang Siwa

Nila

6

Na

Nang

Peparu, Paru-paru (puphusa)

Tenggara (agneya)

Hang Hyang Maheswara

Dadu

7

Ma

Mang

Usus (srota)

Barat Daya (neriti)

Sang Hyang Rudra

Jingga

8

Si

Sing

Limpa, (phila)

Barat Laut (wayabya)

Sang Hyang Sangkara

Hijau

9

Wa

Wang

Ineban, kerongkongan (mahasrota)

Timur Laut (ersania)

Sang Hyang Sambu

Biru

10

Ya

Yang

Susunan rangkaian hati (yakrthrdaya)

Tengah (madya)

Sang Hyang Guru

Panca Warna

 

4.     Aksara sebagai singkatan;atau berdasarkan tata letak/komposisi.

Ada beberapa penggolongan kajang masing-masing memiliki aksara suci sebagai ciri pembeda: Kajang Brahmana, Kajang Ksatrya, Kajang Wesya, Kajang Sudra, Kajang Pasek, Kajang Pande, dll.

  


Dasaksara

Dalam perspektif aksara hal tersebut sedikit akan berbeda. Sebab dalam Kajang ada beberapa jenis Aksara Suci yang mengandung kekuatan sakral-magis-mistik yang kemungkinan akan dapat melepaskan sang roh dari ikatakan panca maha bhuta hingga mencapai kelepasan dan moksa. Karena itu, orang yang menulis Kajang adalah orang yang sudah melewati proses pawintenan dan belajar nyastra atas bimbingan guru (sulinggih). Hal terpenting selain berguru adalah mendapat anugerah dari Hyang Bhatari Durga. Kemudian sadhana laku tatkala menulis atau nyurat Kajang ada beberapa aturan yang harus dilakukan. Terpenting adalah ketika nyurat aksara biasanya aksara Ang dan Ah ditulis dengan penuh konsentrasi dan fokus pada Sakti sebagai manifestasi Durga Dewi. Kemudian, tatkala aksara tersebut ditulis, penulis Kajang hendaknya mampu menempatkan Ang pada dada, yakni tuntungin hati dan aksara Ah pada pangkal lidah, sehingga yang menulis Kajang dapat dinyatakan sebagai Manusa Sakti yang mendapatkan anugrah Dewi Durga untuk mengurai sang roh dari segala bentuk ikatan. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam teks “…,pupusuh, mu, ring, ati. Ungsilan, mu, ring ampru. Tuntungin ati, mu, ring wiiting ati. Mawak Brahma, Wisnu, Iswara. Matemahan manusa Śakti , manusa Śakti ne, mawak Bhaṭāri , Ang, ring dadha, Ah, ring witing lidah, ya ta patemuang, ika atepang, - maka matunggalan maring Bhaṭāri  Durga,…”.

 

Sang Nyurat Kajang, baik Sulinggih, Jero Mangku dan yang pantas hendaknya terlebih dahulu memahami aksara modre dan sejenisnya. Sebelum Kajang kasurat (ditulis) dalam selembar kain kasa, terlebih dahulu ditulis dalam batin kita. Tempatkan Aksara Rwabhineda dengan baik dan benar serta dilatih agar benar-benar membatin dalam kemanunggalan. Pahami betul permainan aksara baik dalam peringkesannya sehingga dapat menempatkan Kajang dalam diri menggantikan kerudung maya yang selama ini mengikat. Berfungsi dan tidaknya Kajang sangat tergantung pada orang yang nyurat.

 

(Dari Berbagai Sumber)

 

BACA JUGA, KLIK DIBAWAH INI :

1.     Kajang,  Untuk Apa ? (1)

2.     Makna dan Fungsi Kajang (2)

3.     Jenis Kajang dan Ngajum Kajang (3)

4.     Prosesi Memandikan Jenasah Umat  Hindu di Bali

5.  Prosesi Menguburkan Jenasah di Bali 1

6.  Panca Yadnya dan Kematian

Belum ada Komentar untuk "AKSARA SUCI PADA KAJANG (4)"

Posting Komentar

Add