MAKNA FILOSOFIS PAGERWESI (1)

MAKNA HARI RAYA PAGERWESI

Hari Raya Pagerwesi, jatuh di hari Rabu (Buda) Kliwon, wuku Sinta setiap 6 bulan (210) hari. merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sanga. Hari raya yang dilaksanakan atas anugrah untuk mencapai kesentosaan dan kemajuan  umat manusia.  Pada hari inilah saat yang tepat bagi semua umat Hindu untuk menyucikan dan memagari diri dan jiwa kita, agar bisa menerima segala berkah dan kemuliaan dari Hyang Pramesti Guru. Pagerwesi berasal dari kata “pager” yang berarti pagar atau perlindungan dan “wesi” berarti besi yang merupakan bahan kuat, jadi pelaksanaan Hari Raya Pagerwesi tersebut bertujuan untuk memagari diri (magehin angga sarira) dengan kuat agar jangan mendapatkan gangguan. Maksudnya memberi pagar diri agar terhindar dari godaan untuk berbuat yang melanggar ajaran agama

 

 

Makna filosofis yang dapat diambil saat perayaan ini, kita hidup di dunia ini perlu adanya penuntun yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga kalau tanpa guru kita akan kehilangan arah. Maka untuk itu kita perlu dibentengi dengan kebaikan, juga perlu pengetahuan yang cukup dan iman yang kuat. Dalam perayaan Pagerwesi ini umat memuja Sang Hyang Widi dalam manifestasinya sebagai Siwa Mahaguru atau Sang Hyang Pramesti Guru (guru dari segala guru). Sang Hyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Hal ini mengandung makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang

Dalam perayaan Pagerwesi inilah umat sejatinya diajarkan tentang kewaspadaan menghadapi berbagai tantangan. Dengan demikian kita penuh kesadaran. Saat kita menghadapi berbagai tantangan, kita sejatinya diajarkan menarik diri ke dalam yakni merenung. Dengan demikian kita dapat dengan jelas melihat persoalan sehingga mampu mencari solusi pemecahannya atau memperoleh jalan yang terang tetap berada di jalur kebenaran. Dan agar kita tidak larut begitu saja pada kebahagiaan jasmani (lahiriah) berupa Artha dan Kama, pada perayaan Pagerwesi-lah kita diingatkan agar memagari diri sekuat besi atau baja dengan pengetahuan spiritual agar mencapai kebahagiaan rohani (batiniah). Dengan demikian terjadi keseimbangan antara kebahagiaan jasmani dan rohani yakni Mokshartam atau Jiwanmukti. Dalam Pagerwesi inilah terkandung konsep Moksha.

Dalam lontar Sundarigama (terjemahannya) disebutkan:  Rabu kliwon Sintha disebut Pagerwesi, sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yg diiringi oleh Dewata Nawa Sanga/sembilan dewa, untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Hari raya Pagerwesi di hari Rabu, yang dapat diartikan sebagai suatu pegangan hidup yang kuat bagaikan suatu pagar dari besi yang menjaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah digunakan dalam fungsi kesucian, dapat dipelihara, dan dijaga agar selalu menjadi pedoman bagi kehidupan umat manusia selamanya.

Pada hari raya Pagerwesi merupakan hari yang paling baik untuk  mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pager wesi” untuk melindungi hidup kita di dunia ini.  Inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi diri  kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

  


 SHAMBALA KERAJAAN DIMENSI LAIN, Klik di sini


UPACARA MENJELANG PAGERWESI

Menjelang Pagerwesi dilaksanakan beberapa perayaan dengan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, begitu juga yang ditujukan kepada unsur Panca Maha Bhuta, dengan tujuan secara umum dunia ini agar  tenteram. Rangkaian upacara tersebut adalah sbb.:

1.  Hari Saniscara (Sabtu), Umanis Wuku Watugunung,  Hari Suci  Saraswati adalah hari untuk memuja dewi Sarasvatī sebagai dewi ilmu pengetahuan. Perayaan Saraswati ini sebagai sebuah refleksi bagi umat Hindu bahwa hanya dengan pengetahuan kita akan mampu meneguhkan hati dalam menjalani kehidupan dengan baik berlandaskan dharma. Hari Raya Saraswati yang  dalam sistim kalender wuku yang berlaku di Bali, wuku Watugunung adalah urutan wuku yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan wuku Sinta adalah wuku dalam urutan pertama atau awal dari suatu siklus wuku,  kita memuja Shakti Brahma sebagai sumber dari segala sumber pengetahuan, dan sumber kebijaksanaan. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, itu tidak akan berarti apa-apa untuk kesempurnaan jiwanya, jika hal itu tidak menuntunnya untuk memuja Brahman. Abdikanlah ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan kepada kita untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi alam semesta sesuai dengan varna yang telah ditentukan pada diri kita masing-masing. Komitmen tersebut mesti mampu menjadi pagar atau benteng (“pura” sejati dalam diri) yang kokoh untuk melindungi diri kita dari segala macam godaan selama mengarungi samudera kehidupan. Dengan membekali diri dengan ilmu pengetahuan, umat diharapkan memiliki wawasan yang luas, sekaligus mampu menghadapi berbagai persoalan hidup. Hari Saraswati yang jatuh pada hari terakhir dari wuku terakhir diperingati dan dirayakan sebagai anugerah Sanghyang Widhi kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi, diartikan sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan baru pada era berikutnya yang dimulai pada wuku Sinta. Sarasvatī memberikan inspirasi dan membimbing manusia untuk belajar dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

2.  Hari Minggu (Redite), Paing, Wuku  Sinta, adalah hari Banyupinaruh, dimana umat Hindu melakukan penyucian diri dengan mandi di laut atau di kolam mata air. Pada saat itu pula, dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk tujuan-tujuan mulia. diharapkan manusia berperan sebagai air yang mengalir dalam menjalani kehidupan. Pada saat ini dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan yang sudah dianugerahkan oleh Sanghyang Widhi dapat digunakan untuk tujuan-tujuan mulia bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan terjalinnya keharmonisan Trihita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta

3.  Hari Senin (Soma/Coma) Pon Sinta disebut hari Somaribek, untuk memuja dewi Śrī Lakṣmī yang dimaknai sebagai hari di mana Sanghyang Widhi melimpahkan anugerah berupa kesuburan tanah dan hasil panen yang cukup untuk menunjang kehidupan manusia. Dan  bagaimana pengetahuan dijadikan senjata untuk mencapai amerta. Dalam lontar Sundarigama yang merupakan lontar yang digunakan sebagai tuntunan dalam melaksanakan upacara yadnya di Bali dikatakan (terjemahannya) : “Soma Pon Sinta disebut juga Soma Ribek, hari puja wali Sang Hyang Sri Amrta, tempat bersemayamannya adalah di Lumbung  Pada hari ini diadakan widhi widhana untuk selamatan atau penghormatan terhadap beras di pulu dan padi di lumbung yang sekaligus mengadakan pemujaan terhadap Dewi Sri Laksmi, sebagai tanda bersyukur serta semoga tetap memberi kesuburan. Adapun sarana upakaranya yaitu nyahnyah geti-getiraka pisang mas, disertai dengan bunga serba harum. Artinya pada saat Soma Ribek, orang-orang tak diperkenankan menumbuk padi, demikian juga menjual beras, karena jika dilanggar, maka akan dikutuk oleh Bhatari Sri. Selain itu pada hari ini juga tidak diperkenankan untuk tidur siang hari, hal ini dikarenakan Sang Hyang Pramesti Guru tengah melakukan yoga di siang hari, sehingga umat Hindu harus menghormati-Nya. Oleh karena itu, pada hari ini seseorang diharapkan untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Tri Pramana, serta mempelajari atau memetik sari tatwa adnyana atau inti sari dari ajaran kebenaran.

4.  Hari Selasa (Anggara) Wage Sinta adalah hari Sabo Mas (Sabuh Mas) yang juga bagian dari hari Saraswati. untuk memuja dewi Śrī Lakṣmī.  Hari Sabuh Mas adalah hari dimana mas itu menjadi suatu kemuliaan diri  dengan berlandaskan  pengetahuan. Pengetahuan imembuat  kemuliaan diri untuk  umat manusia, yang  akan menerima pahala dan rezeki berupa pemenuhan kebutuhan hidup lainnya, bila mampu menggunakannya. Sabuh Mas juga memberikan pengetahuan itu supaya menjadi berguna. Pada hari tersebut umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Mahadewa. , di mana umat manusia akan menerima pahala dan rezeki berupa pemenuhan kebutuhan hidup lainnya, bila mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi di jalan dharma

 

BACA JUGA :

Kajang Untuk Apa ?

Makna  Patram, Puspam, Phalam, Toyam

Om Shri Ganesha Ya namah

Siwa Sidhanta

Fisika Quantum, Menembus Ruang dan Waktu

 

Sumber :

(PHDI Pusat, Balitoursclub.com , ,Nusabali.com I Wayan Sudharma (Mangku Shri Dhanu),Koran Buleleng, Tribunnews.com, Wikipedia, Indobalinews, Tim Astro,, Kumparan, STAH Mpu Kuturan).

Belum ada Komentar untuk "MAKNA FILOSOFIS PAGERWESI (1)"

Posting Komentar

Add