KEJAWEN, FILSAFAT, TRADISI DAN RITUAL

 FILSAFAT  KEJAWEN

Kekuatan asing yang terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa)/Indonesia kuno,  dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah jin, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius .

  1. Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Zat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
  2. Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa.
  3. Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptaan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. 
  4. Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja, melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni : hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kepada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ikhtiar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja,  sikap menghamburkan, dan bentuk kemubasiran, dst.
  5. Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan. Simbol-simbol "laku" biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera  penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan.


Gambar Kejawen Kuno

TRADISI

Sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasih kepada Tuhan, dilaksanakanlah persembahyangan, karena bagi Kejawen tak kenal istilah salah dalam beriman, kebenaran tuhan bukan didapat dari doktrin paksaan namun melalui hati jiwa sadar yang indah menawan, maka para Kejawen selalu menjadi manusia sopan berpikir cerdas bertindak halus penuh perasaan pemuja kebenaran Tuhan. Sesaji atau Sajen, bertujuan agar manusia bisa selaras dengan alam. Selaras dengan masyarakat dan bersyukur dari apa yang telah Tuhan berikan. Seperti seni budaya wayang yang sangat kental dengan unsur Jawa. Selain itu juga ada beberapa ritual seperti ruwatan, dan suran. Tradisi-tradisi seperti slametan, dan bersih desa juga ada hingga sekarang. Mengapa seorang Kejawen Sejati memberikan sajen? Hal ini dikarenakan oleh tata krama sopan santun kepada pihak lain (alam, mahluk halus, sesepuh, orang lain, dsb) yang harus dicerminkan oleh seorang Kejawen. Apa yang disuguhkan? Untuk menghormati para sesepuh, kita sebaiknya menyuguhkan hidangan seperti layaknya menyuguhkan kepada tamu kita, minuman teh atau kopi (tidak menutup kemungkinan jika kita juga ingin menyediakan rokok, bunga melati sebagai wangi-wangian, dsb) sebagai simbol penghormatan kita kepada para sesepuh atau tamu kita. Jadi, hal ini merupakan bentuk sopan santun kita kepada para sesepuh, maupun mahluk halus yang kita rasa sering berkunjung ke rumah kita. Mengapa waktu memberikan sesajen, bersikap seolah menyembah?. Ini memang ada kesalahan gesture antara menyembah Gusti dengan memberi hormat kepada sesepuh.

  1. Dalam Kejawen menjembah Gusti, tangan diletakan di atas kepala atau bersentuhan dengan dahi.Yang memiliki makna, posisi Gusti adalah absolut di atas segala-galanya.
  2. Untuk memberi salam hormat kepada sesepuh tangan/jempol menyentuh dagu, yang memiliki makna bahwa seorang Kejawen tidak boleh berbuat sembrono/sembarangan (baik prilaku maupun bertutur kata), kepada orang atau mahluk yang lebih sepuh.
  3. Memberi salam hormat kepada sesama adalah dengan tangan/jempol menyentuh dada, yang memiliki makna, bahwa seorang Kejawen menghormati sesamanya dengan hati yang tulus dan ikhlas. 

CAKRA, SEBAGAI PUSAT ENERGI SPIRITUAL, Klik di Sini 

RITUAL

Poso (Puasa)

Kejawen dalam berdo’a melibatkan empat unsur tekad bulat yakni: hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Karenanya para penganut Kejawen sangat menyukai ritual berpuasa, sesuai dengan jenis puasa yang dikehendaki. Berbagai macam puasa bagi seorang Kejawen:

  1. Poso Weton - berpuasa pada hari kelahiranya sesuai penanggalan jawa.
  2. Poso Sekeman - Puasa pada hari senin dan kamis. . Dari jam 3 pagi sampai jam 18.
  3. Poso Wulan - Puasa pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 pada setiap bulan Kalender Jawa.
  4. Poso Dawud - Puasa selang-seling, sehari puasa-sehari tidak.
  5. Poso Ruwah - Puasa pada hari-hari bulan Ruwah (Bulan Arwah).
  6. Poso Sawal - Puasa enam hari pada bulan Sawal kecuali tanggal 1 Sawal.
  7. Poso Apit Kayu - Puasa 10 hari pertama pada bulan ke-12 kalender jawa.
  8. Poso Sura - Puasa pada tanggal 9 dan 10 bulan Sura.
  9. Poso Mutih, yaitu tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tidak boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air putih saja.
  10. Poso Ngeruh, yaitu hanya boleh makan sayuran / buah-buahan saja.Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb (vegetarian).
  11. Poso Ngebleng, adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang menjalani Poso Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual.
  12. Poso Ngelowong, lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas. Seseorang yang melakukan Poso Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.
  13. Poso Ngrowot, adalah puasa yang lengkap dilakukan dari jam 3 pagi sampai jam 18. Saat sahur seseorang yang melakukan Poso Ngrowot ini, hanya boleh makan buah-buahan saja.
  14. Poso Nganyep, adalah puasa yang hanya memperbolehkan makan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Poso Mutih, perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.
  15. Poso Ngidang, hanya diperbolehkan memakan dedaunan dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.
  16. Poso Ngepel, mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.
  17. Poso Ngasrep, hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja dalam sehari.
  18. Poso Ngalong - puasa tidak makan dan minum tetapi boleh tidur sebentar saja dan boleh pergi.

 

2

Topo

Disamping berpuasa ada juga Tapa (topo) bila dilakoni  dengan ikhlas, maka orang tersebut akan terbersihkan tubuh fisik dan eteriknya dari segala macam kotoran. Berikut ini beberapa macam topo:

  1. Topo Jejeg, tidak duduk selama 12 jam.
  2. Topo Lelono, melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 pagi (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).
  3. Topo Kungkum, masuk kedalam air sungai dengan tanpa pakaian selembarpun dan posisi duduk bersila didalam air dengan kedalaman setinggi leher. Biasanya di pertemuan dua buah sungai, menghadang arus, namun demikian diperbolehkan memilih tempat yang baik, yang arusnya tidak terlalu deras serta tidak berlumpur. Lingkungan harus sepi, dan diusahakan tidak ada orang lain ditempat itu. Dilaksanakan mulai jam 12 malam (jam 10 keatas) sampai kurang lebih tiga jam (beberapa orang hanya 15 menit), tidak boleh tertidur dan tidak boleh banyak bergerak. Disarankan mandi terlebih dahulu sebelum melakukan ritual ini. Do’a sesaat sebelum masuk sungai: “Putih-putih mripatku, ireng-ireng mripatku, telenging mripatku, semua krana Gusti.” Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada serta nafas teratur.Kungkum dilakukan selama 7 malam.  
  4. Topo Ngalong, yaitu bertindak seperti kalong (kelelawar besar) dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu, topo ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon, dan posisi kepala di bawah. Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakukan, topo ini melatih keteraturan nafas.Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa ngrowot.
  5. Topo Ngeluwang, adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam, dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Topo Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan ghaib dan menghilangkan sesuatu. Topo Ngeluwang adalah topo dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari topo ini biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dsb). Sebelum masuk kekubur, disarankan membaca doa: “Niat ingsun Ngelowong, anutupi badan kang bolong siro mara siro mati, kang ganggu marang jiwa ingsun, lebur kaya dene banyu krana Gusti.

 

SUMBER

Adi Nugroho, //ahmadsamantho.wordpress.com, Bombastis, Iris Indonesia, kompasiana,  richyramadhani.blogspot.co.id, Spiritual, https://sabdalangit.wordpress.comSasana Nuswantara, Wikipedia.

 

BACA JUGA, Klik di bawah ini :

  1. Kejawen, Aliran, Pustaka Suci dan Hari Raya
  2. Animisme, Dinamisme dan Sains
  3. Shambala, Ajaran Esoterik
  4. Bunuh Diri dan Kehidupan di Akhirat
  5. Bhairawa Pesta Sex di Kuburan

Belum ada Komentar untuk "KEJAWEN, FILSAFAT, TRADISI DAN RITUAL"

Posting Komentar

Add