ANTAKARANA SARIRA, Badan Penyebab dan SAINS



Komposisi tubuh manusia, dikenal dengan Tri Sarira yang terdiri dari :

1.  Stula Sarira, lapisan terluar dari tubuh,  disebut juga badan kasar badan fisik atau badan wadah.

2.   Suksma Sarira  lapisan tubuh yang tidak dapat dilihat atau disentuh, seperti pikiran manusia. dan,

3.  Antakarana Sarira, adalah lapisan tubuh yang paling halus, yang disebut Atman. Tubuh manusia (Stula Sarira) adalah alat dari pikiran (Suksma Sarira). Sedangkan (Antakarana Sarira) = “atman”  yang menentukan gerak pikiran manusia. 

  

ANTAKARANA SARIRA.

Antakarana Sarira adalah lapisan tubuh yang paling halus, yang disebut ‘Atman’. Antakarana Sarira juga disebut badan penyebab. Atman menghidupi jiwa manusia. Atman membuat manusia bisa hidup, bergerak, dan memiliki rasa. Atman adalah lapisan tubuh yang paling kuat dalam tubuh manusia. Atman juga merupakan bentuk perilaku dan gerak pikiran manusia. Pikiran dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam, Rajas dan Tamas. Apabila ingatan dipengaruhi oleh Satwam, maka seseorang akan menjadi bijaksana, pandai, pemaaf. Apabila ingatan dipengaruhi oleh guna Rajas maka seseorang menjadi pemarah, pendendam dan agresif. Apabila ingatan dipengaruhi oleh Tamas, maka seseorang akan menjadi malas, loba dan rakus. Jika Atman telah meninggalkan tubuh seseorang, maka itulah disebut kematian.


Antakarana Sarira disebut juga Antakarana pada, susupta pada, atau badan penyebab. Keadaan tubuh dalam Antakarana Sarira adalah seperti orang tidur lelap yang tidak ingat apa-apa yang ada hanya kekosongan, namun pada saat bersamaan ia merasakan keindahan yang luar biasa, keadaan ini disebut dengan sripada. Pada saat Sang Hayang Atman berada pada ketiga wilayah tersebut, maka Sang Hyang Atman disebut dengan atma sangsara dimana Sang Hyang Atma kontak dengan dunia luar melalui tubuh sehingga menimbulkan keinginan yang harus dipenuhi, dan dalam memenuhi keinginan ini maka terjadilah penderitaan. Atman mempunyai sifat yang sama dengan asalnya yaitu Paramaatman atau Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja atman merupakan percikan terkecil dari Paramaatman sehingga walaupun mempunyai sifat yang sama tetapi tidak sama dalam hal kemampuan. 

 

ATMAN DAN ROH.

Roh adalah nama lain jiwa, atau lawan dari tubuh atau badan manusia. Beberapa agama membedakan roh dengan jiwa. Karena itu ada terminology al ruh vs al nafs, pneuma vs psyche (Yunani), spiritus vs anima (Latin), neshama vs ruach (Ibrani). Dalam agama Hindu, dikenal terminologi atman, percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Atman dalam badan manusia disebut : Jiwatman atau jiwa atau roh, yaitu sesuatu yang menghidupkan manusia.

 

Konsep roh merupakan sesuatu yang sangat akrab di telinga kita, apalagi konsep ini lekat dengan konsep penciptaan dan kehidupan setelah kematian. Konsep roh itu  dibuat oleh orang-orang untuk menjelaskan konsep kesadaran sebelum ilmu kedokteran semaju sekarang. Pada saat itu, masih belum ada penjelasan tentang bagaimana manusia bisa hidup (atau mati), sehingga dibuatlah konsep roh, manusia hidup karena ada roh yang ada dalam tubuhnya dan meninggal saat roh tersebut keluar dari tubuh. Ilmu kedokteran sejauh ini belum menemukan adanya tanda-tanda keberadaan roh / jiwa dalam tubuh manusia.

 

BACA JUGA : TANTRA PEMUJAAN KEPADA SHAKTI

Salah satu peran roh yang paling vital, yaitu pembentuk kepribadian, pada kenyataannya sangat dipengaruhi oleh otak (selain karena gen dan lingkungan). Contoh yang paling mudah adalah melihat pasien yang mengalami brain damage (entah karena kecelakaan atau disorder). Ketika bagian tertentu otaknya mengalami kerusakan/perubahan, ada kemungkinan kepribadian orang tersebut juga berubah. Jadi, bagaimana manusia hidup tanpa roh? Simpelnya, tubuh kita dapat bekerja berkat kerja sama antara sistem dalam tubuh manusia. Otak, sistem saraf, organ dan jaringan kita bekerja sama setiap harinya agar kita dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Melihat fakta-fakta ini, bisa dipastikan bahwa roh itu tidak benar-benar ada dan pada dasarnya tubuh manusia tidak memerlukan keberadaan roh untuk berfungsi.

 

Atman dan roh berbeda, roh merupakan Suksma Sarira sedangkan atman adalah penyebab kehidupan yang mana semua hasil dari karma melekat pada atman ini (Antakarana Sarira). Apabila seseorang yang sudah meninggal itu harus kembali lagi ke dunia, maka dia harus melepas suksma sariranya yang lama dan kembali ke dalam bentuk atman, kemudian akan mendapat suksma dan stula sarira yang baru. Makanya dia akan lupa bagaimana dia ada di kehidupan sebelumnya karena akal dan pikiran yang merupakan tempat penyimpanan memory ada pada sukma sarira sebelumnya. Apabila seseorang kehilangan rohnya/suksma sarira, orang itu tetap masih hidup tetapi tidak punya akal dan pikiran lagi dan akan mudah diombang-ambing. Sesuatu yang diciptakan sudah pasti lama kelamaan akan usang termakan usia dan tidak akan bisa digunakan lagi.. "Atma akan berpindah membawa badan halus untuk Punarbhawa (lahir kembali) dengan badan yang baru," .

 

Menurut Ajaran KeBuddhaan, Atman yaitu percikan terkecil dari Tuhan dimana atman itu tidak terpengaruh dengan sifat keduniawian. Misalnya disaat proses kehamilan seorang ibu maka anak yang akan dilahirkan mendapat percikan dari Tuhan yang disebut Atman. Sehingga anak tersebut menjadi hidup dan dilahirkan dalam keadaan polos. Sedangkan, Roh  sudah terikat dengan hal-hal keduniawian. Misalnya orang yang meninggal kemudian kita melihat hantunya, maka itu sebenarnya yang kita lihat adalah Roh yang masih terikat dengan sifat keduniawian sehingga si-Roh tersebut masih merasakan adanya ketergantungan terhadap duniawi sehingga masih gentayangan.

 

Menurut Pandangan Islam, Jiwa, dalam bahasa Arab disebut Nafs, dan dalam bahasa Yunani disebut Psyche yang diterjemahkan dengan jiwa atau Soul dalam bahasa Inggris. Sedangkan Roh biasanya diterjemahkan dengan Nyawa atau Spirit. Plato dan Aristoteles, dua filosof Yunani terkemuka, sudah mengingatkan kepada kita bahwa inti manusia itu adalah psyiche, ruh, bukan jasad. Plato (477-347 SM) berpendapat bahwa jiwa itu adalah sesuatu yang immaterial, abstrak dan sudah ada lebih dahulu di alam praserisoris. Kemudian bersarang di tubuh manusia dan mengambil lokasi di kepala (logition, pikiran), di dada (thumeticon, kehendak) dan di perut (abdomen, perasaan). Pendapat ini kemudian dikenal dengan istilah Trichotomi. Menurut Plato, ketiga unsur inilah yang mendasari seluruh aktivitas manusia. Dengan kata lain, seluruh kegiatan hidup kejiwaan manusia mempunyai dasar yang kuat pada ketiga unsur tersebut. Sejajar dengan trichotominya, Plato mengatakan bahwa manusia akan memiliki sifat Bijaksana (jika pikiran menguasai dirinya) dan Ksatria atau Berani (jika kehendak menguasai dirinya) serta Kesederhanaan (jika perasaannya tunduk pada akalnya). Maka apabila ketiga sifat itu menguasai manusia,berarti ia telah memiliki kesadaran sebagai manusia

 

Menurut pandangan Kristiani, ”Roh” memaksudkan sesuatu yang memberikan kehidupan kepada tubuh. Tanpa Roh, tubuh mati. Karena itu, dalam Alkitab kata ruʹakh tidak hanya diterjemahkan sebagai ”Roh” tetapi juga sebagai ”tenaga”, atau ”daya kehidupan”. Dapat disimpulkan Jiwa dan Roh tidak sama. Roh adalah  daya yang menghidupkan tubuh kita. Dan, sama seperti listrik, Roh tidak mempunyai perasaan dan tidak dapat berpikir. Roh adalah daya yang tidak berkepribadian


Roh

(Plus.kapanlagi.com)

Taittiriya-upanishad mendeskripsikan bahwa atman diselimuti oleh lima lapisan (Pancamaya Kosa):

1.   Annamayakosa (lapisan badan kasar yang mengandung daging dan kulit),

2.   Pranamayakosa (lapisan tenaga kehidupan),

3.   Manomayakosa (lapisan pikiran atau indera yang menerima rangsangan),

4.   Wijnanamayakosa (lapisan nalar, akal budi, atau kecerdasan),

5.  Anandamayakosa (lapisan kebahagiaan atau tubuh kausal). . Dalam suatu pengertian, atman adalah percikan dari Brahman, sedangkan jiwa adalah penggerak segala makhluk hidup. Menurut teologi Hindu yang monoistis/panteistis (seperti mazhab Adwaita Wedanta), sukma individu sama sekali tiada berbeda dari Brahman. Sukma individu disebut jiwatman, sedangkan Brahman disebut Paramatman.

 

ROH dan SAINS

Gabungan beberapa penelitian ilmiah terbaru mengatakan bahwa otak manusia adalah 'komputer biologis', di mana fungsinya serupa dengan perangkat komputer personal berdaya kuantum. Hal itu menjadi dasar penelitian lanjutan yang menyebut bahwa jiwa manusia akan tetap abadi setelah jasadnya meninggal.

Namun, bukan abadi dalam pengertian yang dimiliki sejumlah keyakinan, melainkan kekal dalam bentuk energi yang mampu berhubungan dengan dimensi lain (multi universe). Ahli fisika Dr Stuart Hameroff, dan ahli matematika Sir Roger Penrose, yang berargumen bahwa jiwa sejatinya tersimpan pada sebuah mikro-tubulus di dalam sel otak. Keduanya menyebut ketika jasad manusia meninggal, maka mikro-tubulus pada otak berubah menjadi partikel kuantum yang tetap membawa informasi di dalamnya. Mikro-tubulus inilah yang kemudian disebut sebagai sifat abadi pada jiwa makhluk hidup. Tidak bisa dihancurkan, dan akan terus membawa informasi hingga menuju beragam dimensi yang lebih besar. "Jika jasad kembali dihidupkan, yakni setelah koma atau pasca-operasi bedah khusus, memungkinkan kuantum informasi kembali ditangkap mikro-tubulus, namun dengan jumlah yang tidak bisa seratus persen sama dengan kondisi sebelumnya," jelas Sir Roger seraya mengaitkan hal tersebut dengan kondisi mati sebagian, atau umum dikenal dengan istilah mati suri. Ditambahkan oleh Dr Stuart, bahwa jiwa makhluk hidup sangat mungkin berupa hasil 'interaksi' antar neuron di otak. Ia mengibaratkan interaksi neuron yang saling berkaitan itu serupa dengan sistem saling silang informasi pada server komputer, di mana inti memorinya dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya melalui transfer data.

 

Secara umum dapat dikatakan bahwa dunia medis tidak mengenal terminologi Roh dan mengatakan bahwa kehidupan adalah semata-mata oleh karena masih eksisnya reaksi biokimia dalam sel hidup. Sel-sel "hidup'' sebenarnya merupakan susunan interaksi dari berbagai biomolekul kompleks yang pada dasarnya benda-benda "mati". Karena itu pada dasarnya sel-sel hidup adalah benda mati. Jika reaksi-reaksi biokimia yang secara makro terlihat sebagai fisiologi tersebut masih normal, maka keadaan tersebut disebut hidup dan sehat. Jika terjadi gangguan dalam homeostasisnya, individu tersebut disebut "sakit". Dan akhirnya apabila terjadi kegagalan menyeluruh dalam sistem fisiologinya dimana tubuh tak sanggup memulihkan diri lagi, maka individu tersebut disebut "mati". Apa yang dimaksud dengan hidup dan mati. Yang hidup masih bernafas, yang sudah mati tidak bernafas lagi. Yang masih hidup jantungnya masih berdenyut, yang mati sudah tidak lagi berdenyut.

 

Demikian juga kita masih bisa membedakan mana benda mati mana makhluk hidup. Bebatuan, perabotan rumah tangga dan peralatan elektronika kita adalah benda mati sedangkan binatang  kita anggap makhluk hidup. Apa yang membedakan kedua kelompok tersebut? Kelihatannya cukup mudah membedakannya tapi  perbedaan antara makhluk hidup dan benda mati tidaklah segampang yang kita pikirkan. Sebenarnya kehidupan lebih mudah dikenali ketimbang didefinisikan.  Semua zat, materi atau apapun yang kita kenal di semesta ini tersusun dari partikel atom. Bebatuan terdiri dari mineral dan unsur-unsur logam yang tentunya secara mendasar adalah susunan atom-atom. Binatang  terdiri dari atas sistem dan organ tubuh, selanjutnya organ disusun dari jaringan, jaringan dari sel-sel, sel-sel dari organela-organela, organela tersusun dari molekul organik dan akhirnya semua molekul organic tersusun dari atom-atom. Lalu kalau sama-sama terdiri dari atom, mengapa bebatuan mati dan binatang  hidup? Sifat-sifat apa yang membedakan binatang dan batu?.


Struktur mikroskopis batuan memang agak rumit dengan beraneka ragam mineral yang dikandung di dalamnya. Tetapi susunan atom-atom di dalamnya masih belum ada apa-apanya dibandingkan susunan atom makluk hidup pada ukuran yang sama. Artinya organisasi atom-atomnya masih jauh lebih sederhana dibanding organisasi-organisasi makhluk hidup yang manapun. Ada kompleksitas yang membedakannya.  Salah satu ciri yang paling khas pada organisme hidup di planet ini (karena belum ada bukti sahih kehidupan di planet lain) adalah bahwa ciri tersebut dibangun dari molekul yang mengandung atom karbon. (Dari sekian ratus unsur kenapa karbon?). Begitu khasnya ciri ini, sehingga kimia yang mempelajari kimia senyawa-senyawa karbon itu disebut kimia organik. Batubara dan minyak bumi adalah benda mati, tapi kita yakin senyawa karbon yang dimilikinya merupakan warisan makluk purba yang telah mati jutaan tahun yang lalu sehingga kita menamainya bahan bakar fosil. Bebatuan mungkin saja mengandung atom-atom karbon organik, tetapi dapat dipastikan karbon itu disisipkan oleh suatu proses kehidupan dilingkungannya.


Intan dan batubara juga sama-sama mengandung karbon sebagaimana layaknya suatu makhluk hidup?. Organisasi makhluk hidup manapun jauh lebih kompleks dan dinamis. Disebut dinamis karena makhluk hidup atau organisme terus-menerus bertukar atom-atomnya dengan lingkungannya. Atom-atom itu disusunnya secara teratur dan tertentu di dalam sel-selnya dengan susunan molekul yang berbeda dari yang didapat dari lingkungannya. Kita melihat binatang memakan sesuatu dan menghirup udara dari lingkungannya dan kemudian membuang limbahnya ke lingkungan dengan cara defekasi, , berkeringat dan membuang nafas. Kita sebut proses ini metabolisme, suatu kata kunci yang membedakan antara makhluk hidup dengan benda mati.

  

Ada kode Alien di DNA Manusia

(Lirazan.blogspot.com)


Beberapa orang mungkin berargumen bahwa kristal juga bertumbuh dengan mengambil atom-atomnya dari lingkungan sekitarnya. Apakah kristal layak kita sebut ”hidup”? Kristal memang bisa bertambah besar dengan menghimpun atom-atom dari lingkungan dan menyusunnya secara teratur ke dalam organisasinya sama seperti semua makhluk hidup lainnya. Tapi kristal tidak melakukan metabolisme sebab unit-unit yang diambilnya dari alam sudah identik dengan unit yang ada didalam organisasi kristal. Hal ini sangat berbeda dengan makluk hidup, sebab tumbuhan mengambil molekul-molekul CO2 dan H2O dan menyusunnya kedalam tubuhnya dalam bentuk C6H12O6 alias glukosa. Hewan juga memakan tumbuhan tapi tidak menyusunnya sebagai tumbuhan melainkan sebagai dagingnya. Manusia memakan daging sapi tapi sebagai akibatnya manusia tidak pernah menjadi sapi. Semua proses ini terjadi oleh karena metabolisme. Metabolisme menyebabkan adanya proses tumbuh dan berkembang, suatu sifat dasar kehidupan manapun.. Semua organisme tumbuh dengan mengubah bentuk bahan-bahan dari lingkungannya menjadi bentuk yang khas baginya.

 

Anjing, kucing atau simpanse bisa saja memakan bahan-bahan yang sama dengan kita, tetapi kucing mengubah bahan-bahan tersebut (sebut saja nutrisi) menjadi khas kucing, anjing mengubahnya agar menjadi ”lebih anjing” dan manusia mengubah nutrisi tersebut agar menjadi ”lebih manusia”. Apa yang mengatur semua proses-proses ini? Tak lain adalah adanya serangkaian informasi kehidupan yang mengkode proses tersebut secara khas untuk setiap spesies, kode informasi itu disebut gen. Demikian vitalnya kode ini, sehingga kode ini harus diselamatkan secara lengkap dengan penggandaan. Fotokopinya lalu diwariskan kepada kehidupan berikutnya supaya organisme tetap eksis. Teknik pewarisannya kode rahasia itu beraneka ragam Bagi organisme yang lebih sederhana, prosesnya merupakan perluasan proses pertumbuhan. Sel-sel amuba menjadi lebih besar lalu membelah dan setiap belahannya sudah mengandung kode kehidupannya masing-masing yang identik, sehingga sel anakan akan selalu menjadi amuba.  Demikian juga banyak jenis tumbuhan mengeluarkan batang-batang horisontal yang kelak akan menumbuhkan ”anaknya” yang bisa hidup mandiri. Semua jenis pewarisan kode ini merupakan wujud nyata perkembangbiakan, sifat kehidupan lainnya. Selain berkembangbiak seperti cara di atas, organisme tingkat tinggi melakukan penggabungan kode antara jenis jantan dan betina untuk mewariskan kode spesifik bagi keturunannya. Proses ini disebut perkembangbiakan secara seksual.

 


Perkembangan Zigot

(katapendidikan.com)


Seorang laki-laki menyumbang separuh kodenya (yang dibawa oleh spermatozoa) kepada separuh kode yang tersimpan dalam ovum seorang wanita. Melalui hubungan seksual atau melalui fertilisasi di cawan petri, hasil penggabungan tersebut akan menjadi sebuah zigot
sel yang terbentuk sebagai hasil bersatunya dua sel kelamin (sel ovum dan sel sperma) yang telah matang.) dengan satu set lengkap kode pembuatan manusia didalam intinya. Saya sebut satu set lengkap karena kode tersebut telah mencakup kode apapun tentang kehidupan yang akan dilahirkan. Di dalam rahim, zigot tadi berkembang secara membelah diri menjadi beberapa sel yang identik. Dalam satu tahapan tertentu sel-sel tertentu akan mengubah dirinya menjadi sel saraf dan kulit, yang lainnya menjadi sel otot atau sel usus, demikian seterusnya sampai terbentuk seorang manusia yang lengkap dalam bentuk mini: janin. Setelah dilahirkan bayi akan mengalami proses tumbuh kembang menjadi manusia sempurna. Proses pembentukan individu baru ini disebut perkembangbiakan.


Baik zigot yang berukuran renik maupun seorang manusia dewasa adalah sama-sama organisme. Keduanya sama-sama makhluk hidup yang memiliki semua ciri kehidupan. Mempertanyakan kapan suatu janin memiliki ’hidup” adalah sama konyolnya dengan membagi periode antara ”masa janin yang belum punya roh” dengan ”janin yang sudah punya roh”. Kehidupan dari zigot menjadi manusia merupakan proses biokimia yang berlangsung secara kontinu. Mempertanyakan kapan seorang janin disebut mandiri sebagai individu tersendiri terlepas dari ibunya, merupakan alternatif pertanyaan yang lebih ilmiah. Bukankah zigot, sebagai mana sel-sel lainnya dalam tubuhnya masih dapat dianggap bagian organ sang ibu. Bedanya janin dapat disebut xeno organ bagi si ibu, semata-mata karena adanya kode asing yang diwarisi dari partner seksnya.  Manusia adalah kelanjutan dari zigot. Dari satu zigot bisa dikloning menjadi beberapa manusia dan secara alami kita lihat dalam proses terjadinya bayi kembar mono zigot. Sebaliknya dalam satu bayi manusia yang lahir bisa ditumpangi kembarannya baik sebagai parasit yang sudah mati ataupun tetap hidup sebagai individu tersendiri dalam bentuk kembar siam. Kejadian yang langka ini tentu saja terjadi karena fenomena gagal pisah. Kembar siam yang paling fatal dalam hal perhitungan jumlah individu tentunya adalah kembar siam dengan satu torso tapi dengan dua kepala (dan dua kepribadian/kehendak yang berbeda).


Selain metabolisme, tumbuh dan berkembang serta mereplikasi diri, salah satu ciri kehidupan lainnya adalah ketanggapan terhadap stimuli dari lingkungan. Agar tanggap terhadap lingkungannya organisme telah mempunyai detektor stimuli (baca: indera) yang bisa menerjemahkan stimuli cahaya, panas, tekanan, bunyi, bahan kimia dan lainnya menjadi sinyal kimia atau elektrik dalam tubuhnya. Sel-sel pada retina mata manusia bisa mendeteksi gelombang elektromagnetik yang bergetar pada frekuensi tertentu, bulbus olfaktorius di hidung mendeteksi sebaran bahan kimia sebagai bau, lidah membedakan rasa dari rangsangan bahan-bahan kimia, telinga menangkap gelombang dengan frekuensi 20 Hz s.d 20.000 Hertz sebagai buny. Sedangkan bunyi infrasonik memiliki frekuensi yang sangat rendah untuk manusia, yaitu kurang dari 20 Hz hingga 0,0001 Hz. Bunyi ini bisa didengarkan oleh hewan seperti gajah, anjing dan jangkrik. Namun, tidak bisa didengarkan oleh telinga manusia. bunyi ultrasonik memuat frekuensi yang terlalu tinggi untuk manusia, yaitu di atas 20.000 Hz. Jenis frekuensi ini hanya mampu didengarkan oleh hewan tertentu yakni kelelawar dan lumba-lumba. Bunyi audiosonik adalah satu-satunya bunyi yang mampu didengar oleh telinga manusia. Bunyi ini memiliki frekuensi antara 20Hz hingga 20.000 Hz. Selanjutnya kulit dilengkapi dengan ujung-ujung saraf yang mendeteksi tekanan sebagai nyeri atau mendeteksi suhu, demikian seterusnya.


Ketanggapan terhadap lingkungan ini dikendalikan dan diorganisasikan oleh sistem hormon dan saraf yang akan menggerakkan efektor untuk menanggapi stimuli tersebut. Tumbuhan yang tidak mempunyai sistem saraf akan mengandalkan sepenuhnya sistem hormon. Bagaimana dengan organisme sederhana?. Mereka akan menggunakan reseptor di membran selnya untuk mendeteksi perubahan lingkungannya dan akan bereaksi sesuai dengan program kehidupannya. Kehidupan yang pernah kita lihat di bumi ini bisa berlangsung karena ada energi yang menggerakkannya. Semua makhluk hidup mulai dari sel-sel yang berukuran renik sampai manusia adalah mesin-mesin biologi yang digerakkan oleh energi kimia. Energi itu jelas bukan roh, karena roh bukanlah jenis energi dan juga bukan bagian dari definisi materi. Sejauh ini sains bisa menerangkan kehidupan tanpa mengikutsertakan ide tentang roh.

 

Apakah roh itu benar benar ada? Jika tidak, bagaimana manusia bisa hidup?. . “Ini badan halus, sederhananya tempat dari keinginan, ego, nafsu, dan semacamnya. Semua itu akan selalu melekat dan dibawa oleh lapisan badan ketiga kita”

 

BACA JUGA, KLIK DIBAWAH INI :

1.   Kehidupan Setelah Kematian

2.   Reinkarnasi,Ilmiahkah 1

3.   MisteriRoh 1

4.  MisteriKehidupan Masa Lalu 1

5.  Otakdan Spiritual

6.  Suksma Sarira (Badan Halus)

7.  Stula Sarira (Badan Wadah)

Belum ada Komentar untuk "ANTAKARANA SARIRA, Badan Penyebab dan SAINS"

Posting Komentar

Add