BHAIRAWA SEKTE MISTIK (1)

Bhairawa
 

Tantra adalah ajaran yang dikhususkan untuk jaman Kaliyuga, karena pada jaman Kaliyuga ini, tidak mungkin untuk melakukan ritual yang sedemikian rumit dan berbagai tirakat yang terdapat di dalam Veda, akan tetapi alternatifnya adalah melatih Tantra yoga yang akan menuntun pada tujuan yang sama dan juga sekaligus memenuhi kebutuhan manusia. Tantrayana  memusatkan pemujaan terhadap Devi/Dewi sebagai Ibu Bhairawa (Ibu Durga atau Kali). Sebagai sakti (istri) Dewa Siwa, kedudukan Dewi Durga ini lebih ditonjolkan daripada dewa itu sendiri. Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran yang disebut Kalimasada (Kali-Maha-Husada), artinya “Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab” dalam zaman kekacauan moral, pikiran, dan perilaku  manusia.


Bhairawa adalah Sekta yang memuja Siwa sebagai Dewa Utama dalam manivestasinya sebagai Siwa Bhairawa. Sedangkan pemujaan terhadap saktinya disebut Bhairawi dengan Dewi Dhurga atau Dewi Kali sebagai Dewi Utama. . Sekta ini juga digolongkan ke dalam Sekta wacamara atau aliran kiri yang mendambakan kekuatan magic yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi.  Bhairawa  adalah Sekte rahasia dari sinkretisme antara agama Budha Aliran Mahayana dengan agama Hindu aliran Siwa Bhairawa yang berarti menakutkan atau mengerikan. Bhairawa merupakan salah satu perwujudan Dewa Siwa dalam aspek peleburan dengan perwujudan yang sangat menyeramkan.Sekte ni dikatakan menyimpang dari ajaran Pancamakara pada Kitab Kali Mantra.

 

Ada tiga aliran ajaran Bhairawa  Tantrayana yaitu: Bhairawa Kalacakra merupakan pertemuan ajaran Buddha dengan ajaran Tantrayana.  Bhairawa Herucakra merupakan ajaran yang muncul dari tradisi kepercayaan Indonesia bercampur dengan Kalacakra. Bhairawa Bima Sakti adalah pertemuan antara ajaran Bhairawa dengan ajaran Siwa. Ajaran Tantra Bhairawa ini bisa dikatakan sebuah penyimpangan dari ajaran Tantrayana yang asli.

 

SAKTIISME

Tantrayana termasuk sekta  saktiisme, karena yang dijadikan objek persembahannya adalah sakti. Sakti dilukiskan sebagai Dewi sumber kekuatan atau tenaga. Sakti adalah simbol dari bala atau kekuatan (Sakti is the symbol of Bala or strength) (Das Gupta, 1955 : 100). Dalam sisi lain sakti juga disamakan dengan energi atau kala (This sakti or energi is also regarded as “kala” or time) (Das Gupta, ibid).


Dengan demikian Saktiisme sama dengan Kalaisme. Sekte  Kalaisme atau Kalamuka atau Kalikas dan disebut juga Kapalikas. Sekte ini sejenis dengan aliran Bhairawa atau Tantrayana kiri. Pengikut dari sekte ini di India kebanyakan dari suku Dravida, penduduk asli India, Oleh karena pengikut sekte ini kebanyakan penduduk asli India maka juga disebut Sudra Kapalikas. Dari pendekatan Antropologi budaya, kepercayaan sejenis ini disebut Dynamisme.

 

Para ahli dan pakar sejarah juga menyebutkan bahwa Tantra Bhairawa adalah sekte rahasia. Ajaran ini hanya bersifat pemuasan nafsu dan dikucilkan dari Weda. Di Bali, perkembangan daripada Konsepsi Dewi itu nyata sekali berupa pemujaan terhadap Dewi atau Bhatari (misalnya Dewi Saraswati, Dewi Durga, Dewi Sri, Dewi Gangga, Dewi Danuh dan lain sehagainya). Di dalam sistem kekerabatan di Bali, banyak sekali terdapat Pura Ibu yang mempunyai konotasi terhadap Konsep Dewi. Perkembangan Saktiisme di Bali juga menjurus kepada dua aliran mistik yaitu Pangiwa dan Panengen. Dari Pangiwa muncullah pengetahuan tentang Leyak, Desti, TĂ«luh, Taranjana dan Wegig, sedangkan dari Panengen muncullah pengetahuan tentang Kawisesan, Usadha dan Pragolan.

 

Siwa Bhairawa

SEJARAH

Dasar-dasar paham Tantra sebenarnya telah ada di India sebelum bangsa Arya datang di India, jadi sebelum kitab Weda tercipta. Pada masa itu, di peradaban lembah Sungai Sindu, cikal-bakal paham Tantra telah terbentuk dalam praktik pemujaan oleh bangsa Dravida terhadap Dewi Ibu atau Dewi Kemakmuran. Timbullah paham Saktiisme, atau disebut juga Kalaisme, Kalamukha, atau Kalikas (Kapalikas), yang dianut oleh penduduk asli India tersebut. Sekte ini muncul kurang lebih pada abad ke-6 M, di Benggala sebelah timur. Kemudian menyebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, Korea masuk Ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Malah, pada abad ke-7, Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat studi Mahayana di Asia Tenggara.

 

TUJUAN

Tujuan utama dari Tantra adalah sama seperti tujuan Weda yaitu mencapai Tuhan dan kebenaran, pengetahuan dan kebahagiaan yang merupakan atribut dari yang absolute. Pengikut sekte Bhairawa Tantra berusaha mencapai kebebasan dan pencerahan (moksa) dengan cara yang sesingkat-singkatnya.  Pencerahan bisa diraih melalui sebuah kejenuhan total terhadap kenikmatan duniawi. Tujuan  dari ajaran Tantrayana, tetap menikmati keduniawian, namun spiritualitas harus diutamakan

 

Paham Tantrayana-Hindu identik dengan paham Siwa–Bhairawa. Bhairawa (artinya hebat), ini perwujudan Siwa yang mengerikan, digambarkan ganas, memiliki taring, bertubuh besar, dan berwujud raksasa. Kertanegara seorang penganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Khu Bhi Lai Khan di Cina yang menganut Bhairawa Herucakra. Kebo Parud, Patih Singasari penganut Bhairawa Bhima untuk mengimbangi Raja Bali yang kharismanya sangat tinggi pada jaman itu. Adityawarman penganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi raja-raja Pagaruyung di Sumatra barat yang menganut Bhairawa Herucakra.

 TUBUH MANUSIA dan LATIHAN SPIRITUAL, Klik Di Sini

Aliran-aliran Bhairawa cenderung bersifat politis yang diperlukan untuk memperoleh kharisma dan wibawa yang besar yang diperlukan untuk mengendalikan pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kerajaan. Sekte Bhairawa aliran kiri menggunakan aksara modre, sedangkan sekte Bhairawa aliran kanan lebih cenderung menggunakan aksara wreastra swalalita. Pada intinya ajaran Bhairawa di Bali adalah untuk pencapaian  Tuhan Yang Maha Kuasa.  Untuk mencapai tujuan ini, orang Bhairwa sendiri dengan melaksanakan hal yang lebih instan dengan 3 tahapan, yaitu :

1.     Upanisan (mengasingkan diri)

2.     Kabumian (laku tirakat seperti Bumi)

3.     Upawasa (Menahan hawa nafsu)

Jika seorang telah melewati 3 tahapan diatas dengan lancar maka orang tersebut dapat hilang atau lenyap dari dunia langsung menuju nirwana atau surga, dan  akan mendapatkan suatu kekuatan sakti, dan juga  mampu membuat pellet, pesugihan, santet, pengasiham dll.

 

Siwa Bhairawa


Tantrayana mengenal adanya meditasi dengan menggunakan alat berupa mandala (bagi penganut Buddha) atau yantra (bagi penganut Hindu). Mandala adalah yantra yang dianut Hindu dalam variasi lain yang bercorak Buddha, yakni lukisan yang berfungsi sebagai alat bantu dalam meditasi sehari-hari. Alat tersebut dibuat dari tanah, kain, pada dinding, logam, atau batu, yang harus digunakan oleh mereka yang mencari pelepasan dari rangkaian siklus (lingkaran) kelahiran kembali. Penggunaan mandala/yantra ini biasanya dibarengi dengan memegang aksamala (tasbih atau rosario) dengan tangan kanan untuk menghitung mantra yang diucapkan terus menerus hingga kadang-kadang orang yang bersangkutan merasa bebas dari keadaan di sekitarnya. Tantrayana mengajarkan agar badan, perkataan, serta pikiran digiatkan dengan  ritual, mantra, dan samadi. Jaman Kaliyuga atau Kalisangghara ini hanya mempelajari, menjalankan dan memahami secara utuh ajaran Bhairawa akan dapat mencapai kebebasan yang sempurna. Melaksanakan ajaran Bhairawa akan menuntun pada tujuan yang sama dan juga sekaligus memenuhi kebutuhan manusia, yaitu kebebasan yang sempurna, kebebasan yang absolut sehingga tercapai purnammukti. Purnammukti merupakan kebebasan yang tertinggi dicapai oleh Atman, di mana Atman  bersatu dengan Brahman

 

Hingga sekarang aspek shaktisme masih bisa dijumpai dalam tradisi Jawa seperti ritual melakukan tirakat/puasa untuk mendapatkan kekuatan, juga penggunaan benda-benda pusaka guna mendukung kepentingan tertentu, seperti kewibawaan, kekuatan, dan lain sebagainya

KITAB-KITAB

Meski Raja Sindhok penganut Siwa, ia menganugerahkan Desa Wanjang sebagai wilayah sima (yang dibebas pajakkan) kepada pujangga bernama Sambhara Suryawarana yang menyusun kitab Tantra, Sanghyang Kamahayanikan.

 

Kitab-kitab  yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali, kurang lebih ada 64 macam, antara lain: Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara.

 

BACA JUGA, KLIK DIBAWAH INI :

1.   Bhairawa  Pesta Sex Di Kuburan  (2)

2.   Tantra Pemujaan Kepada Cakti

3.   ShambalaKerajaan Dimensi Lain

4.   SiwaSidhanta

5.   Suksma Sarira, Badan Halus

 


Belum ada Komentar untuk "BHAIRAWA SEKTE MISTIK (1)"

Posting Komentar

Add