TANTRA, PEMUJAAN KEPADA SHAKTI (2)



Kitab Tantra

Tantra adalah cabang dari agama Hindu. Kebanyakan kitab-kitab Tantra masih dirahasiakan dari arti yang sebenarnya dan yang sudah diketahui masih merupakan teka-teki. Kebanyakan orang-orang Hindu, termasuk para sarjana besar, pada umumnya tidak mendiskusikan Tantra. Bagian  terbaik  dari Tantra adalah pengetahuannya mengenai energi Kundalini yang luas yang belum dimanfaatkan di dalam tubuh manusia. Mantra-mantra Hindu yang ada sampai saat ini banyak bernapaskan ajaran Tantra. Tantra juga melakukan penelitian mengenai ilmu kimia, astrologi, astronomi, palmistry (ilmu meramal melalui rajah tangan), cosmologi (ilmu tentang alam semesta, awal, perkembangan, dan akhirnya) dan bahkan teori atom. Mantra-mantra adalah hadiah dari Tantra kepada agama Hindu dan dunia. Yantra, sket-sket dan bentuk-bentuk geometral yang dihubungkan dengan Mantra, juga merupakan hadiah yang sama pentingnya dari Tantra kepada kemanusiaan. Ada sekitar seratus delapan buku mengenai Tantra. Dalam Tantrisme, Ista Deva yang dipuja adalah Siwa-Sakti, kombinasi dari Siwa dan saktinya Parwati. Tantrisme dan Saktiisme hampir satu dan sama. Adapun kitab-kitab Tantrayana di Indonesia antara lain adalah Tantrawajradhatusubuti, Candra Bhairawa dan Semara Tantra. Umumnya memuat  latihan spiritual untuk membangkitkan keilahian. 

  


Mantra, Yantra dan Tantra

Sadhana melibatkan tubuh dalam mudra (gerakan tangan suci), suara dalam mantra (ucapan suci), dan pikiran dalam visualisasi batin yang jelas dari desain ymbol dan sosok dewa. Instruksi terperinci tentang bagaimana gambar divisualisasikan dan mantra yang sesuai untuk masing-masing terkandung dalam sadhana yang tertulis. Salah satu koleksi tersebut adalah Sādhanamālā  (Sansekerta:  “Garland of Realization”), mungkin disusun antara abad ke-5 dan ke-11. Koleksi sekitar 300 sadhana ini mencakup yang dirancang untuk berbagai hasil praktis serta yang dimaksudkan untuk realisasi spiritual lebih lanjut. Sadhana tertulis, juga berfungsi untuk mengajar pematung dan pelukis.


Tantrisme

Tantrisme atau Tantram, adalah istilah yang mengacu pada sekolah esoteris dari Hinduisme dan Buddhisme dan dengan Kitab Suci (disebut “Tantra”) biasanya diidentifikasi dengan pemujaan Shakti. Tantra terutama berkaitan dengan praktik-praktik spiritual dan bentuk-bentuk ritual ibadah yang bertujuan pada pembebasan dari kebodohan dan kelahiran kembali. Dalam “kidal” Tantra (Vamachara), ritual hubungan seksual digunakan sebagai cara untuk masuk ke dalam proses yang mendasari dan struktur alam semesta. Tantrisme lebih sering dinyatakan sebagai suatu paham kepercayaan yang memusatkan pemujaan pada bentuk çakti yang berisi tentang tata cara upacara keagamaan, filsafat, dan cabang ilmu pengetahuan lainnya, yang ditemukan dalam percakapan antara Deva Siwa dan Devi Parwati. Tantra bukan merupakan sebuah ymbol filsafat yang bersifat padu (koheren), Tantra merupakan akumulasi dari berbagai praktek dan gagasan yang memiliki ymbo utama penggunaan ritual, ditandai dengan pemanfaatan sesuatu yang bersifat duniawi, untuk menggapai dan mencapai sesuatu yang bersifat rohani, serta penyamaan atau pengidentikan antara ymbol mikrokosmos dengan ymbol makrokosmos

 

Beberapa Indolog  beranggapan bahwa ada hubungan antara Konsep-Dewi (Mother Goddes) yang bukti-buktinya terdapat dalam suatu zeal di Lembah Sindhu dalam kurun waktu sebelum zaman Veda, dengan konsep Mahānirwāna Tantra. Dari konsep Dewi itu muncullah  Saktiisme. Dalam perkembangan lebih lanjut daripada Saktiisme ini, maka muncullah Tantrisme yaitu suatu paham yang memuja Sakti secara ekstrim. Para penganut paham ini disebut Tantrayana. Dalam Mahānirwāna Tantra disebutkan bahwa Tantra Śāstra ini merupakan Kitab Suci untuk zaman Kaliyuga.   Sesungguhnya  ajaran Tantra  diturunkan oleh Śiva  diperuntukkan bagi orang-orang dizaman Kali. Tetapi ymbol sekali dari berbagai Śāstra Hindu yang ada, justeru Tantra Śāstra tidak banyak dikenal apalagi dipahami saat ini. Namun hal ini adalah wajar karena ajaran Tantra memang sulit, diperlukan tingkat evolusi berpikir untuk bisa menyerap dan memahaminya. Di samping itu, karena arti terhadap berbagai istilah serta metode yang dilaksanakan terus dijaga kerahasiaannya oleh para penganutnya.

 

Dikatakan bahwa Tantra itu mengandung inti-pati Veda, yang secara khusus membahas hubungan antara Parāmātma dengan Jīwātmā. Demikian juga  Kaulāchāra merupakan  inti-pati dari apa yang disebut Vedāchāra, setiap  āchāra  yang dilakukan mengikuti jalan kaulāchāra semakin meningkat kehalusannya, yaitu menembus selubung – selubung jasad yang lebih halus

 

Bhairawa

Dari Tantrisme muncullah paham Bhairawa. Tantra juga membahas masalah-masalah magic hitam (black magic) dan latihan-latihan yoga-seks antara pengikut wanita dan pria. Menurut Tantrisme, tindakan demikian itu akan membantu para penganut untuk menjelajahi indriya mereka dari pada ditundukkan oleh mereka, dan untuk secara nyata mempergunakan energi seksual mereka untuk peningkatan spiritual. Penganut wanita yang ambil bagian dalam latihan-latihan erotik ini dianggap seorang Sakti.


Salah satu dari praktek Tantrik dikenal dengan nama Chakra Pooja, atau “pemujaan melingkar” (circle worship). Dalam upacara ini sejumlah pasangan laki-laki dan wanita bertemu di tengah malam di tempat yang dipilih, misalnya sebuah kuburan dan melakukan “hubungan seks suci” (holy intercouse). Tantra  mendorong
hubungan sex pada waktu haid,  dengan keyakinan bahwa selama periode ini energi seorang wanita ada pada puncaknya. Ada Mudra atau gerak tangan yang khas Tantrisme, kebanyakan melambangkan kegiatan seksual. Bahkan lambang AUM tampak dalam banyak Tantra sebagai sebuah simbol mistik yang menekankan persatuan pria dan wanita.

 

Tantra memiliki dua jalur yang berbeda dari pelatihan, jalur kiri (Vama-marga) dan jalur kanan (dakshina-marga). Jalur kiri berlatih bentuk yang lebih literal dari Tantra yang biasanya melibatkan hubungan seksual, mengarah ke ilmu hitam, santet dan sejenisnya. Dan mempraktekan ritual maithuna dikenal sebagai “The Five Makaras”. Selama ‘pertemuan malam’, beberapa praktisi bergabung untuk mengambil bagian dari lima ymbol dari kesenangan,  madya  (anggur),  Matsya  (ikan),  mamsa  (daging),  mudra   (biji-bijian kering/gerak tangan), dan   maithuna  (seks suci).

Jalur kanan, menjurus kearah kewisesan, pengobatan (usadha) dan sejenisnya

 

 

Jejak-jejak Tantrisme di Indonesia dan di Bali.

Di Bali, perkembangan daripada Konsepsi - Dewi itu nyata sekali berupa pemujaaan terhadap Dewi atau Bhatari seperti : pemujaan terhadap Dewi Saraswati, Dewi Durga, Dewi Sri, Dewi Gangga, Dewi Danuh dan lain sebagainya. Perkembangan Saktiisme di Bali juga menjurus kepada dua aliran mistik yaitu : Pangiwa dan Panengen. Dari  Pangiwa munculah pengetahuan tentang Leyak, Desti, Teluh, Taranjana dan Wegig. Sedangkan  dari Panengen munculah pengetahuan tentang Kawisesan, usadha   dan sejenisnya.

 

BACA JUGA, KLIK DIBAWAH INI :

1.     Jainisme,Agama yang Atheis

2.     Kehidupan Setelah Kematian

3.     Kerajaan Bedahulu Runtuh

4.     MaknaPatram, Puspam, Phalam

5.     Majapahit dan Kerajaan Gelgel

Belum ada Komentar untuk "TANTRA, PEMUJAAN KEPADA SHAKTI (2)"

Posting Komentar

Add