PAGERWESI DI BULELENG TIMUR - 3

HARI RAYA UMAT HINDU NUSANTARA DAN INDIA.

Bila kita memperhatikan hari-hari raya keagamaan Hindu di India dan di Indonesia sesungguhnya tidak terdapat perbedaan makna dari hari-hari raya keagamaan dimaksud.  Perbedaan tersebut karena Di India hari-hari raya keagamaan itu hanya berdasarkan Tahun Surya dan Bulan (Solar dan Lunar System), di Indonesia mempergunakan kedua sistim itu dan juga menggunakan sistem Pawukon. Sistim Pawukon ini rupanya sistem kalender asli Nusantara dan ketika agama Hindu masuk ke Nusantara, di kepulauan ini,  penggunaan sistim Pawukon rupanya telah sangat memasyarakat, oleh karena itu, sistim yang merupakan warisan leluhur bangsa ini tetap dilestarikan dengan cara menempatkan hari-hari raya keagamaan Hindu yang datang dari India dalam sistim Pawukon itu. Beberapa hari raya keagamaan Hindu yang dimasukan dalam sistem Pawukon.  

1.  Umat Hindu di Indonesia dan di India sama-sama merayakan  Sarasvatī, Śivaratri. Beberapa hari raya namanya sama, tetapi ada juga yang maknanya sama namun namanya berbeda, juga terdapat perbedaan dalam merayakan hari-hari raya keagamaan itu.

2. Di India dirayakan Durgapūjā, Śrāddha Vijaya Dasami atau Navaratri (dirayakan selama 10 hari) di Bali disebut Galungan-Kuningan pada hari Budha Kliwon Dungulan hingga Saniscara Umanis Kuningan (dirayakan selama 10 hari juga),

3. Hari  Ayudhapūjā (pada Saniscara Kliwon wuku Landep. Di Indonesia dirayakan sebagai  Tumpek  Landep),

4. Hari  Sankarapūjā (pada hari Sabtu Kliwon wuku Wariga, di Indonesia dirayakan sebagai Tumpek Wariga)

5.  Pada hari terakhir, Wuku terakhir, yakni Sabtu (Saniscara) Umanis, wuku Watugunung, di Indonesia dirayakan Hari Suci Saraswati, di India dirayakan sebagai Hari Guru Purmima

 


Mengenai tata cara pemujaan hari Guru Purnima yang berlangsung di Śivananda Ashram, Rishikesh, Uttar Pradesh, dilaksanakan sebagai berikut:

1. Semua siswa dan Sanyasin di ashram telah bangun pagi-pagi benar (saat Brahmuhurta,sekitar jam 04.00).Mereka bermeditasi kepada Guru (Parameṣṭi Guru) dan mengucapkan mantra-mantra Gurupūjā.

2. Selanjutnya mempersembahkan sesaji di kaki Guru dan diiringi mantra Gurugita.

3.  Pada siang harinya, para Sadhu dan Sanyasin menerima persembahan sajian berupa hidangan (prasadam di Bali disebut lungsuran).

4. Kemudian diselenggarakan Satsang atau Dharmatula membahas makna spiritual Gurupūjā khususnya dan topik-topik menarik lainnya.

5.  Para siswa yang telah siap untuk diinisiasi (di-Diksa) menjadi Sanyasin dilakasanakan pada hari ini juga.

6. Para siswa umumnya melaksanakan Brata dan Upavasa sepanjang hari untuk kemajuan spiritual. Bagi yang mampu sangat baik melakukan Monabrata(tidak berbicara) dan tidak menikmati makanan dan minuman,namun bagi siswa tertentu hanya minum susu segar saja atau hanya buah-buahan sepanjang hari.          

7. Pada malam hari kembali berkumpul di Aula dan melakukan Bhajan (kidung)  


 REALITAS HANYALAH ILUSI - ALBERT EINSTEIN, Klik di sini


PAGERWESI DI BULELENG TIMUR

Mengapa Hari Raya Pagerwesi di Buleleng Timur dilakukan  berbeda dengan daerah lain di Bali?.

1. Ada petuah dari tetua Buleleng yang diwariskan turun-temurun yang mengamanatkan keturunannya untuk merayakan Pagerwesi secara sungguh-sungguh sebagai Perayaan Peneguhan Lahir Batin. Kebiasaan ini diwujudkan dengan melaksanakan perayaan secara meriah layaknya seperti perayaan Galungan kemenangan dharma melawan adharma.

2.  Dalam Manawa Dharmasastra II.6, yang didalamnya termuat sistem dan asas hukum menurut Hindu, yang terdiri dari :

a.     Sruti (Weda sebagai sumber utama),

b.     Smerti (hasil ingatan Dharmasastra yang menjadi pedoman),

c.     Sila (tingkah laku orang suci),

d.     Acara (tradisi), dan

e.     Atmanastuti (rasa puas diri). 

Perayaan Pagerwesi di Buleleng Timur  didasarkan kepada Acara (tradisi)yang telah diwarisi secara turun temurun. Acara dalam maknanya sebagai kebiasaan memang memiliki arti yang kurang lebih sama dengan kata "drsta". (Memandang atau Melihat).  Ada 5 (lima) Acara atau drsta, yang menjadikan atau menentukan umat Hindu mengaplikasikan ajaran Wedanya berbeda-beda yaitu :

1. Sastra drsta berarti tradisi yang bersumber pada pustaka suci atau sastra agama Hindu;

2.  Desa drsta berarti tradisi agama yang berlaku dalam suaru wilayah tertentu;

3. Loka drsta adalah tradisi agama yang berlaku secara umum dalam suatu wilayah;

4. Kuna/purwa drsta berarti tradisi agama yang bersifat turun temurun dan diikuti secara terus menerus sejak lama; dan yang tak tertulis, tapi kita tidak berani tidak melakoni itu.

5.  Kula drsta adalah tradisi agama yang berlaku dalam keluarga tertentu saja.



Desa Dresta dan Loka Dresta, yang berlaku di suatu wilayah atau pun keluarga. Kemudian kenapa di Buleleng Timur, perayaan Pagerwesi berbeda seperti Galungan? Karena berlaku dalam Loka Dresta ini

Tidak ada sejarah yang pasti mengenai perbedaan tata cara merayakan Hari Raya Pagerwesi ini. "Acara inilah yang menjadikan atau menentukan umat Hindu mengaplikasikan ajaran Wedanya berbeda-beda. Namun meski tradisi ini memang mengakar di Buleleng Timur, bagi seluruh umat Hindu ini merupakan momentum yang bertujuan untuk mengingatkan kembali pentingnya seorang Guru yang merupakan dasar yang kuat bagi pengetahuan dan agama.

BACA JUGA :

Kajang Untuk Apa ?

Makna  Patram, Puspam, Phalam, Toyam

Om Shri Ganesha Ya namah

Siwa Sidhanta

Fisika Quantum, Menembus Ruang dan Waktu

 

Sumber : (PHDI Pusat, Balitoursclub.com , ,Nusabali.com I Wayan Sudharma (Mangku Shri Dhanu),Koran Buleleng, Tribunnews.com, Wikipedia, Indobalinews, Tim Astro,, Kumparan, STAH Mpu Kuturan).

Belum ada Komentar untuk "PAGERWESI DI BULELENG TIMUR - 3"

Posting Komentar

Add